Hari-hari untuk cerita-cerita

March 12th, 2008 by damz

Novela_marimar_012107_320_2
Paolo_maldini_9

Rosalinda berfikir bahwa AC Milan yang akan memenangkan pertandingan, tapi nyatanya salah! Permainan cantik yang diperagakan oleh tim besutan Arsene Wenger yang notabene dihuni oleh pemain muda ternyata membuat kalang kabut pertahanan AC Milan yang digalang kapten gaek Paolo Maldini. Rosalinda memang pemuja tim rossoneri, tapi jangan samakan Rosalinda dengan Rossoneri. Kecantikan Rosalinda belum tentu diterapkan oleh permainan cantik Rossoneri. Jika kecantikan Rossoneri berpuncak pada permainan keseluruhan tim, sebaliknya Rosalinda mempunyai kecantikan yang lebih dibanding operasi plastik manapun.

***
malam hampir berganti pagi
mentari sebentar lagi muncul dari ufuk timur
Seperti biasa…

***

Sergio belum juga tertidur, sampai Marimar datang membawakan teh hangat. Beda dari biasanya, Pulgoso kini tak pernah ada dibelakangnya. Kabar buruk memang menimpa Marimar minggu kemarin, Pulgoso mati diserang kawanan tikus di jalanan kota yang kumuh. Di pemakaman umum Pulgoso istirahat untuk selama-lamanya. Batu nisannya terukir :

Pulgoso Alfonso Brino
(anak anjing keturunan anjing juga)
Lahir   09-09-1999
Wafat  06-06-2006

Marimar tak pernah lepas bersedih, tak mengerti apa yang menimpa pulgoso. Mungkin karena kematian yang datangnya selalu mendadak. Ada isu berkembang di kalangan per anjingan, pulgoso nekat memotong nadi karena tak kuasa menahan rasa kecewa karena kekasihnya yang melahirkan anak dari persetubuhan dengan seekor Doberman. Sampai pada akhirnya dia ditinggal kawin.

Pulgoso kehilangan kepercayaan diri, dan nyawa yang dihempaskannya. Maklum, karena kepercayaan dikalangan per anjingan, kejantanan mungkin disesuaikan dengan ukuran bukan skill. Disinilah terjadinya kesenjangan kelas, dimana bentuk superioritas dapat melakukan apapun terhadap golongan dibawahnya.

***

sudah lama cerita itu berlalu
bukan Robert kalau tidak membuat sensasi
kini Robert membuat berhala baru
berhala dari kayu jati
yang setiap pagi disembahnya sebelum berangkat kerja
“ pohon jati,kirimkanlah aku kekasih yang baik hati. yang mencintaiku apa adanya “

***
cinta mulai sombong
semenjak sibuk mengurus sidang perceraian
harta gono-gini tak pernah tuntas
padahal aku butuh uang
untuk beli HP yang dicuri maling kemarin

Malam kemarin, Cinta sedikit sakit hati saat disindir tentang materi, nafasnya tiba-tiba sesak. Dan akhirnya mendefinisikan maling sebagai sebuah pembelaan saat profesi professional kantoran semakin susah dicari. Saat pendidikan tak mencukupi dan himpitan ekonomi yang semakin menjadi, maka keberanian yang diutamakan. Masuk kamar orang,,tengok kiri,,tengok kanan,,ambil hp yang tergeletak. Lari seribu langkah. Beres!

Tetapi Marimar tak pernah bertanggung jawab atas pencurian yang terjadi. Padahal nyatanya dia lambat laun mencuri suami orang. Bahkan tahlilan pulgoso pun di tak datang. Kawannya yang lain menyuap jaksa dalam kasus BLBI, dia kabur ke singapura menyusul kekasihnya yang bekerja disana. Gogon masih saja menangis saat didakwa hukuman 5 tahun penjara. Perdebatan antara Miyabi dengan Sandra Dewi, dan tolak angin masih saja untuk orang pintar.

***
ahh..
biarkan aku menutup mata sejenak
dunia yang kupijak memang terlalu gemerlap

Cerita Akhir Tahun 2007

December 30th, 2007 by damz

- Kututup dengan satu cerita di akhir tahun ini diantara beberapa yang kuingat seperti kematian Benazir Bhutto dan kegagalan Persib masuk ke babak 8 besar. Cerita kecil dalam hidupku yang kupaksakan masuk dalam satu penutup akhir tahun ini -

Ingatanku mungkin tidak cukup kuat untuk mengingat apa saja yang telah terlewati sejak tahun 2007. Begitu panjang urutan hari, begitu lama waktu terlewati namun tetap saja terasa cepat dan tanpa disadari. Yang aku ingat sekarang mungkin hanya beberapa, kematian Benazir Bhutto, kekesalan terhadap PERSIB yang tidak lolos ke babak 8 besar walaupun menang di partai terakhir tapi tetap saja terasa hambar.

Aku hanya ingin bercerita dan memaksakan masuk dalam satu penutup akhir tahun ini. Cerita ini memang tidak masuk dalam satu sejarah tapi bisa saja tetap diingat kenyataannya bahwa aku melewati hal ini. Tanggung jawab sebagai anak yang berbakti pada orangtua telah kutunaikan. Wisuda di pertengahan November walau dengan hasil yang jauh dari sempurna cukup membuat mata ibuku berkaca-kaca. Roman bangga ayahku dengan kumis yang dari dulu tetap menempel tak pernah lepas. Juga adikku yang mungkin membayangkan bagaimana rasanya di wisuda. Dan,,ahhh..teman-teman yang selalu setia, ganjar, ilham, beben, ian, amang, yuni, dan mira yang memberi masukan untuk pakaian yang aku pakai.

Bagian ini mungkin akan selalu teringat. Di akhir tahun ini juga aku mengakhiri statusku sebagai karyawan Harian Pagi Tribun Jabar. Setelah 2 tahun lamanya mengabdi, ada saatnya untuk lepas juga. Tanpa ada masalah apapun, hanya kupikir mungkin sudah saatnya saja bagiku untuk mencoba peruntunganku di tempat yang lain. Berat memang untuk meninggalkan zona yang sudah kuanggap nyaman, dan kembali berada di titik nol di tempat lain. Tapi bagiku sama saja, dimanapun itu, menjalani kehidupan memang butuh perjuangan, pengorbanan dan kerja keras.

November 2005 torehan tanda tanganku tertuang di surat kontrak yang disodorkan waktu itu. Artinya bahwa bulan itu aku disahkan sebagai karyawan disana. Setelah melewati beberapa seleksi akhirnya aku diterima dan mulai bekerja disana. Entah berapa orang saat itu yang pasti di penghujung hanya aku dan joni yang tersisa untuk memperebutkan satu tempat di ruangan berukuran 3×4 meter. Ternyata Joni tidak kerasan di kantor itu dan beruntungnya dia diterima di salah satu koran lokal terbesar di Jawa Barat. Sedangkan aku hanya bermodalkan hobby grafis jadi kunikmati saja pekerjaan itu.

Tanpa melihat berapa yang aku dapat tapi membanggakan buatku. Yah begitulah menurutku, saat terkagum-kagum dengan pengalaman beberapa penulis senior di media lain yang bercerita tentang suka duka bekerja di media, ternyata disinipun aku bertemu dengan penulis yang tulisannya pernah kubaca sebelumnya. Ada Hermawan Aksan dan Cecep Burdansyah.

Bagaimana di ruanganku waktu itu?

Sosok dingin menyambut saat kubuka pintu ruangan. Eric namanya, berjanggut, memakai kemeja hitam dan celana hitam, tipikal bicara seperlunya. Selanjutnya berdatangan masuk ke ruangan. Agus, Inda, Yusin, Sri, Peppy, Icha, Sita, Santi, Fredi yang pada awalnya aku tak melihat mereka. Beberapa jam dihabiskan diruangan hanya untuk melihat bagaimana mereka bekerja. Hingga saat senja tiba, satu orang masuk yang akhirnya menjadi rekan kerjaku. Cecep Almualif namanya, yang awalnya berprofesi sebagai atlit dan pelatih bulutangkis, banting setir menjadi desain grafis. Terserah mau dibayangkan seperti apa, yang pasti aku diberi gambaran oleh eric bahwa sosok cecep bisa disamakan dengan Malih tongtong atau Chris John. Bangsat hayam! Ternyata memang sedikit menyerupai.

Angin memang tak pernah berhenti berhembus, kadang kencang sehingga meniupkan daun-daun berterbangan pergi dari dahannya. Begitupun yang aku lihat, satu persatu kawanku pergi. Mungkin masih harus berevolusi mencari bentuk dari dirinya. Eric, Sita, Santi, Agus, Inda, dan beberapa lainnya pergi. Itu yang teringat olehku, karena mataku sendiri yang melihat mereka pergi.

Suasana berganti kembali, sepertinya orang baru membawa cerita baru lagi yang akan tertuang dalam setiap guratan. Manajer iklan baru Ibu Yoba, Eric yang digantikan oleh Didin, punggawa Bangka Pos yang hijrah kembali ke Bandung. Asti yang menggantikan Agus. Hanya untuk posisi admin yang cukup sulit diingat, maklum pergantian orang memang sering di bagian itu. Dan yang terakhir untuk posisi admin diisi oleh Akah Komariah, pelatih Paskibra di kota Bandung. Luar biasa!. Pemain lama masih diisi oleh Icha, Peppy, Fredi, termasuk Cecep.

Sampai pada akhirnya, akupun sendiri yang harus pergi. Dan mata-mata lainlah yang menyaksikan kepergianku dari kantor itu. Dan akupun tertiup hembusan angin sehingga pada akhirnya harus terbang. Tidak akan ada lagi umpatan khas Cecep yang akan kudengar, keluhan Didin, teriakan Asti, sapaan Icha, cerewetnya Akah, cerita Peppy, Hastyo dan Fredi. Semuanya kusimpan dalam ingatan yang akan mengembalikan lagi romantisme yang pernah terjadi dalam ruangan 3×4 itu. Ruangan itu akan dibarukan lagi dengan sosok yang baru pula. Aku pergi bukan berarti meninggalkan, melainkan sayap ini masih sangat kuat untuk ku terbang ke tempat yang kuinginkan.

Terimakasih kawan! Terimakasih Tribun Jabar! Sukses untukmu semua. Selamat tahun baru 2008 semoga menjadi awal yang baik untuk kita semua.

kemarin nonton film

November 7th, 2007 by damz

Musicandlyrics_3
Once_4




Beberapa hari kemaren,,kebetulan ada waktu lengang
buat saya hunting film di tempat yang biasa saya beli. cukup menyenangkan
juga,,melakukan kegiatan yang udah lama gak dilakukan. acak sana,,acak
sini,,tanya sana,,tanya sini. biasanya bawa movie list yang didapet dari browse
internet,,cuma kali ini langsung tembak aja.

Semalem saya pake untuk nonton dua film ini.
seperti biasa,,rokok, teh panas dan kripik singkong jadi konsumsi berharga
malam itu. film drama musikal romantis
yang digarap dengan jenis musik yang berbeda. Music n lyrics menawarkan konsep
musik pop dance 80an walaupun ada beberapa yang mellow dengan konsep solo
piano…tapi klo once,,musiknya dengan konsep irish music dengan gitar akustik
dan kekuatan vokal (bukan growl tentunya) yang jadi unggulan. bisa didenger pas
lagunya ‘When Your Minds Made Up’.

Dari segi cerita,,tampaknya ga jauh sama..dimana
lirik menjadi tumpahan segala sesuatu yang menyangkut dengan diri si pencipta.
pada dasarnya di kedua film ini semua lirik hampir bertemakan cinta..baik yang
mengungkapkan cinta maupun yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap cinta itu
sendiri

Mungkin kita bisa liat perbedaan dari lirik2 di
kedua film ini..yang emang buat saya ini lagu paling oke di film ini

 

DON’T
WRITE ME OFF
(
hugh grant, music n lyrics )

It’s
never been easy for me
To
find words to go along, with a melody
But
this time there’s actually something, on my mind
So
please forgive these few brief awkward lines

Since
I’ve met you, my whole life has changed
It’s
not just my furniture, you’ve rearranged
I
was living in the past, but somehow you’ve brought me back
And
I haven’t felt like this since before Frankie said relax

And
while I know, based on my track record
I
might not seem like the safest bet
All
I’m asking you, is don’t write me off, just yet

For
years I’ve been telling myself, the same old story
That
I’m happy to live off my so called, former glories
But
you’ve given me a reason, to take another chance
Now
I need you, despite the fact, that you’ve killed all my plants

And
though I know, I’ve already blown more chances
Than
anyone should ever get
All
I’m asking you, is don’t write me off, just yet
Don’t
write me off just yet

LIES
(
glend hansard and marketa irglova )

I
think it’s time, we give it up
And
figure out what’s stopping us
From
breathing easy, and talking straight
The
way is clear if you’re ready now
The
volunteer is slowing down
And
taking time to save himself

The
little cracks they escalated
And
before you know it is too late
For
making circles and telling lies

You’re
moving too fast for me
And
I can’t keep up with you
Maybe
if you slowed down for me
I
could see you’re only telling
Lies,
lies, lies
Breaking
us down with your
Lies,
lies, lies
When
will you learn

The
little cracks they escalated
And
before you know it is too late
For
making circles and telling lies

You’re
moving too fast for me
And
I can’t keep up with you
Maybe
if you’d slowed down for me
I
could see you’re only telling
Lies,
lies, lies
Breaking
us down with your
Lies,
lies, lies
When
will you learn

So
plant the thought and watch it grow
Wind
it up and let it go

Bagaimana film ini didukung,,? jelas berbeda..dari
aktor dan aktris nya pun terlihat perbedaan jauh..kalau music n lyrics
diperankan ama Hugh Grant dan Drew Barrymore yang notabene emang pionirnya film
romantis. Nah klo once,,karena ini masuk dalam ruang film indie,,,dia
diperankan oleh Glen Harsard dan Marketa Irglova..yang memang secara implisit
kita belum pernah dengan aktor aktris ini.

Tapi bagaimanapun meskipun dari segi jenisnya
berbeda antara box office dan film festival,,tapi kedua film ini punya kekuatan
masing2 yang tidak bisa disamakan. cukup menghibur dan cukup untuk menerawang
menikmati makna lirik liriknya.

selamat menonton!

 

Persib, biru yang tak seperti warnanya

August 23rd, 2007 by damz

’ Sepakbola seharusnya mengembalikan hakikat manusia sebagai homo ludens, sama-sama dapat bergembira, sama-sama mempunyai kesempatan untuk bermain-main dalam kehidupan ’

Sepakbola Bandung memberikan cirinya tersendiri, dengan fanatisme pendukungnya yang luar biasa memberikan kesan tersendiri pada pemain, pelatih maupun lawan itu sendiri. Siapa yang mau tantangan dalam bermain bola? Siapa yang mau mendengar gemuruh suara yang tak henti-henti bagai deburan ombak? Siapa yang mau merasa di dewa kan? Dan siapa yang siap untuk dihujat? Datang dan mainlah di Bandung. Jika anda berhasil maka sanjungan akan datang tiada henti tapi tidak sebaliknya. Inilah ciri khas pendukung tim PERSIB.

Berawal dari terkuasainya tampuk pimpinan puncak pada putaran pertama, heroisme pendukung PERSIB semakin bergelora. Semua seakan mencium bau-bau kemenangan dalam setiap episodenya dan sepertinya meyakini bahwa pangeran biru lah yang akan menghiasi senayan nantinya. Semua harus menjadi lautan biru, bak warna langit yang terpantul birunya samudera.

Maung lapar itu kembali dengan auman yang bergelora. Bandung menari-nari tertawa bernyanyi. Jika harus disamakan dengan hooligan Inggris - yang selalu beranggapan ketika Inggris menang – it’s football, it’s coming home. Indonesia harus menjadi tahu, dimana kiblat sepakbola nasional itu berada: stadion Siliwangi! Yang selalu bergelora dengan heroisme pendukungnya. Sebelas orang ditambah orang keduabelas yang menjadikan kuburan bagi tim-tim yang mencoba menjajal kekuatan Persib.

Sampai pada akhirnya di penghujung putaran pertama, sejarah mencatat, semua mata memandang saat musuh bebuyutan Persib (baca: Persija) dilumat tiga gol tanpa balas!. Bagi bobotoh, kemenangan Persib kenikmatannya bisa melebihi apa yang tersaji dalam keduniawian. Kepuasan ini tak pelak didukung oleh rasa nyinyir pada para pendukungnya yang menamakan dirinya The Jak Mania.

Kebencian inilah yang menumbuhkan dendam-dendam turunan yang diwariskan oleh para pendahulunya kepada embrio-embrio baru pendukung fanatik kedua tim. Apalagi dengan anggapan bahwa pendukung Persija bukanlah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan pada timnya, melainkan sekumpulan pemuda bayaran yang tanpa mereka sadari bahwa tidak ada naluri alamiah dari diri mereka untuk mendukung timnya. Secara hiperbola bobotoh bisa menganggap bahwa bertemu Persija terasa bagaikan perang Balkan yang dilakukan Kroasia dalam perebutan kembali tanah Krajina dari tangan Serbia. Dan pertandingan layaknya perang!

Dalam keheningan masa rehatnya

Sepertinya tak terjadi apa-apa

Sampai pada akhirnya hujan asam turun perlahan

Mengikis lapisan tameng besi pangeran biru

Satu pemain dibuang, diganti dengan kelahiran pemain yang tak diinginkan. Seperti anak yang lahir dari persetubuhan yang tidak direstui. Pelatih mungkin merasa bahwa harus ada pemain yang lahir dari sperma pikirannya, bukan pemain yang lahir dari olahan orang lain. Adalah Nyeck Nyobe yang menjadi pertaruhan jatah pemain asing yang ada di tubuh pangeran biru. Nyata tak bisa ditolak! Anak olahan itu sungguh menjadi benteng terakhir pertahanan pangeran biru dan bobotoh memercayainya sebagai kelahiran yang direstui. Dia harus pergi, dan polemik mulai terjadi.

Hingga kini, tak ada yang bisa memungkiri bahwa terjadi polemik di tubuh Persib. Pengurus, pelatih dan pemain tetap mencoba untuk professional. Menganggap bahwa ini adalah buah dari kompetisi yang paling padat dan paling aneh di jagat raya. Tapi mungkin tidak bagi bobotoh, setelah beberapa pertandingan dengan hasil yang kurang memuaskan. Semua terus berteriak untuk memanggil kembali si anak buangan. Pertahanan kini semakin rapuh, begitu opini mereka. Tak bisa ditolak memang bahwa kegelisahan bobotoh bisa sangat berpengaruh besar pada keutuhan tim.

Apa mereka menyadari? Beberapa mungkin ya. Seperti di laut, semua suara. Beberapa bobotoh yang lain hanya mampu berteriak menggemuruh. Yang berperan penuh di medan laga, tampak tertekan tak kuat menahan derasnya arus gelombang meskipun mencoba mendayung sekuat asa. Sang pelatih merasa di titik nadir psikisnya, yang akhirnya terbaring di rumah sakit. ‘ siapa mampu menahan teriakan ribuan orang ‘ begitu kata Arcan Iurie arsitek tim Persib yang tertulis dari pemberitaan di Koran.

Memang tidak secara mutlak bahwa bobotoh berpengaruh pada keutuhan Persib. Tidak ada asap kalau tidak ada api, begitu kata pepatah. Pun secara kimia tidak akan ada reaksi kalau tidak ada aksi. The winning team sudah terbentuk dengan hampir sempurna. Perombakan kecil dari sang pelatih merubah segalanya. Apa yang menjadi pertimbangan? Secara teknis pelatih yang berperan penuh. Tapi ada baiknya juga ketika pelatih dibantu oleh naluri alamiahnya, dengan memberikan ruang pada satu tataran pemikiran intuitif. Bahwa sepakbola bukanlah satu rumusan matematis, apapun bisa terjadi diluar nalar kita. Arcan Iurie seharusnya bisa berkaca pada situasi, toh dirinya sudah digembleng cukup lama oleh atmosfir penggila sepakbola kota Bandung.

Dan memang terbukti setelah menghabiskan empat pertandingan, pangeran biru belum menunjukkan superioritasnya dilapangan. Stadion Siliwangi tak lagi angker bagi lawan-lawannya. Bobotoh semakin gelisah, pemain bermain tak tau arah, alur permainan tak menentu. Kurang apa dalam tim Persib? Kualitas pemain semua merata, kualitas pelatih, dukungan bobotoh turun temurun tak pernah berhenti, kucuran dana masih mengalir.

Tak ada lagi sense of crisis, yang dapat membuat semua berpikir realistis. Tak ada lagi pemahaman tentang Homo Ludens ‘manusia bermain’ (istilah yang senang dipergunakan Alm. Romo Mangunwijaya) jauh lebih berharga dari pada soal siapa menang atau kalah. Inilah fanatisme, impian dan otoritas birokrasi dalam Persib. Yang terjadi adalah hilangnya sisi kemanusiaan, dan Persib kehilangan identitasnya sebagai tim yang bermental juara.

—–

Tulisan ini ditulis sesudah pertandingan PERSIB VS PERSELA yang berakhir dengan kedudukan 0-0. Masih tersisa 13 pertandingan lagi untuk PERSIB, semoga semua bisa berubah. JAYALAH PERSIB!

Obrolan Malam Kemarin

May 17th, 2007 by damz

‘Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.’ (Kommer, 199)

52 lembar kartu bridge disebar merata, malam itu semuanya terus memperdebatkan masalah kemungkinan dalam satu ruang ketidakpastian. Aku dan ketiga kawanku masuk dalam permainan itu. Apakah  akan menang atau pada akhirnya menderita kekalahan semua bergantung dari kartu yang didapat dan tentang bagaimana kita memainkannya. Seperti kehidupan, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Nilai kemungkinan terjadinya suatu kejadian pada akhirnya semua bertaruh pada probabilitas yang akan terjadi. Nilai diantara 0 dan 1. Dimana  1 adalah kejadian yang pasti terjadi, dan tentu tidak akan mengejutkan sama sekali, seperti matahari yang masih terbit dari ufuk timur. Sebaliknya dimana 0 bisa mencerminkan kejadian yang mustahil atau tidak mungkin terjadi.

Ilustrasi dari seorang kawan ataupun mungkin diriku. Yang mencari kemungkinan dari setiap kemungkinan. Membaca tanda-tanda dari setiap gejala yang datang, dengan beberapa pengharapan yang muncul dari rangkuman selaksa makna. Bahwa ketika rasa takut adalah seni dan perlu ada sosok yang membantu untuk melihat.

Ada keinginan namun tidak ada keberanian, ada keberanian namun tidak ada kejujuran. Sebuah penyakit menahun yang tak pernah terselesaikan dalam semalam proses penyembuhan semalam. Sejak Sigmund Freud membongkar tabir kegelapan jiwa, berbagai anggapan sebelumnya tentang penyakit jiwa menjadi berubah. Semua dapat kita telanjangi bagaimana cara kerja jiwa dan berbagai mekanismenya tidak lantas membuat jiwa manusia begitu saja mudah dipahami. Maka atas dasar inilah jiwa masih merupakan sebuah misteri. Misteri dalam diri yang hanya menggolakan hasrat, namun sulit untuk meledakkannya menjadi sebuah ledakan big bang.

Ketika kita beranggapan bahwa kematian adalah sesuatu yang absurd, dan seharusnya bahwa kematian bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari kehidupan berikutnya seperti dalam proses ekologis. Seperti pandangan fisika kuantum,  atom ternyata tidak homogen tapi di dalamnya mengandung pluralisme dari berbagai unsur : proton, neutron, positron, meson, muon dan sebagainya. Bahkan inti atom masih bisa dibelah sehingga menimbulkan energi tinggi yang bisa dipakai untuk hal yang konstruktif maupun destruktif. Begitupun kematian/kegagalan yang timbul ketika keberanian dan kejujuran itu diungkapkan bukan berarti akhir dari segalanya.

Maka bebaskan! Beranikan! Karena mungkin dialah yang kamu cari…

(dari obrolan malam kemarin)

- damz -

‘Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya yang pelik cuma liku dan tafsirannya.’ (Pangemanann, 38)

Si John Tua dan Nona Penari

January 20th, 2007 by damz

Si John penghuni tua jalan Malabar masih tetap bercerita. Entah apa yang membimbing pikirannya hingga dia lupa tentang seringai tawa orang yang melihatnya. John tampak tenang, seakan merajut cerita fiksi dalam pikirannya dan melihat kumpulan manusia yang berada tak jauh dari pandangnya seperti lawan mainnya. Hujan deras yang mengguyur, tak membuat john untuk berhenti memainkan peran. Melangkah, mengayunkan tangan, menunjuk-nunjuk, dan berteriak bahkan sesekali bernyanyi.
John tetap bercerita membius orang-orang yang melihatnya. Tanpa sadar membawa mereka yang melihat, masuk dalam satu lingkaran fiksi dan realita. Tapi tentu bukan itu tujuan utama john dalam memainkan perannya. John tidak melakukan sebuah tindakan absurd, tetapi sebuah tindakan yang didorong oleh pikiran bawah sadarnya. Dan John tetaplah John si penghuni tua jalan Malabar yang lebih merasakan bagaimana sebuah praha merubah dirinya.
Pertunjukan sepertinya hampir berakhir, John beberapa kali menguap pertanda kantuk mulai menyerangnya. Mas Is sang penjaga ketentraman, yang terlihat tegap dibalik terkebirinya seragam putih biru mulai untuk menutup layar. Pertunjukan harus diakhiri dan john harus mempersiapkan skenario baru untuk pentas esok harinya. Ahhh….standing applause! Penonton bersorak! Semua kembali ke peraduannya sambil kembali bercengkrama dengan rekannya.
Malam belumlah terlarut dalam gelap, masih ada setidaknya sedimen senja yang tersisa untuk diri ini menikmati secangkir kopi dan gulungan rokok kretek. Tidak sedikit yang aku pikirkan saat ini, tentang nona penari dan tentang sayap yang entah harus terbang kemana. Beberapa hari yang lalu, seperempat malam, tiga per dua hari menuju pagi. Sedetikpun tak pernah berhenti dibuai sang nona penari. Telapak kaki menghentak menginjak bumi, bumi berotasi dan nona penari berputar melawan arah. Lentiknya memang tak selentik jari tangan, tapi hentakannya yang menggetarkan separuh hati. Dan sayap ini belum lagi bergerak, mengepakkan dengan satu keyakinan. Jika saat ini terbang, apa nona akan menyambut dengan satu tarian?.
Seperti layaknya hipnotis gerak-gerik John, nona penari selalu menggiringku kedalam satu lingkaran cerita fiksi yang tak mampu untuk kuangkat dalam realitas yang sebenarnya. Terlalu berat, sehingga cerita yang aku buat tampak bias dimata nona sang penari. Jangan biarkan hari sehitam jelaga. Nona, teruslah menari. Berotasi melawan arah gerak bumi, ditemani pena yang takkan pernah berkarat menemani nona menari. Ini nyanyian, senandung dalam setiap guratan.
Apa yang telah kupahami dari beratus-ratus lembar hikayat tentang nona sang penari? Semua terkunci dalam satu labirin, tanpa jalan keluar mencoba melawan setiap misteri. Kita berdua memang pernah tertindas oleh situasi yang sangat membingungkan. Tapi fiksi takkan pernah pergi jauh-jauh dari realitas. Dan keyakinanku yang tampak fiksi dimata nona sang penari perlahan akan melampaui batasan-batasan itu.
Jika ini cinta, bagaimana tentang keraguanmu yang muncul tiba-tiba? Apakah cinta itu telah merajam hatimu dan membuang tubuhmu? Hingga pada akhirnya kau paksakan ‘tuk menyembunyikannya terlalu dalam di ruang yang tiada kumengerti. Dan kau biarkan aku untuk mencarinya bersama sebuah naluri yang bergerak, bergentayang, dan meraba segala sesuatu yang membuatku selalu berkira?.
Oooo nona penari…inilah satu cerita yang kau ciptakan tentang kegamangan dalam ruang waktu yang terus berputar. Seperti malam dalam sebuah hutan lebat tak bertuan, entah nona meninggalkan jejak atau tidak. Atau seperti dalam novel dunia sophie dimana sophie dan alberto hanyalah objek cerita sang mayor. Begitupun kita, mungkinkah kita ini hanyalah sebuah objek cerita dari sosok yang mengatur skenario tentang kita? Padahal kita bisa membentuk cerita sendiri. Dan tidak ada oposisi biner yang tercipta, semua bias diantara hasrat merasuk kedalam jiwa.
Nona penari masih menari, saat aku mencoba menuliskan surat ini untuknya. Dia tak pernah berhenti menari, hingga darah tercipta di kedua telapak kakinya. Cinta barangkali kegagapanku untuk mengecup sepasang alisnya, sehingga memang harus kuucapkan pengakuan ini: aku jatuh cinta padanya.

————
In the depth of winter,
there lay an invincible summer.
- Albert Camus -

SEGERA BEREDAR..!!!

December 11th, 2006 by damz

Dengan alur cerita yang berputar-putar, namun tetap berotasi pada porosnya Jem Bross mencoba menghadirkan suatu cerita yang tidak dapat diterima oleh nalar. Sebuah pergulatan pikiran manusia dalam memecahkan misteri kehidupan di setiap sisinya. Jem Bross mengajak pembacanya untuk lebih mengenal dan berpikir lebih jauh tentang angka-angka yang terdapat dalam sistem kalender. Dengan mengenyampingkan wacana-wacana semiotika, interpretasi angka 1-30/31 dalam setiap kalender ternyata mampu menyikap misteri yang tak pernah diungkap sebelumnya. tentang keseluruhan yg berkaitan dengan kehidupan!. jadi jangan sembarangan memajang kalender!! (naonnnnn deuihhh ???????)

Davincicode3_1

The Damz Vinci Code

Menggoyahkan Iman
Membangkitkan Hasrat
Nafsu makan bertambah
4 sehat 5 sempurna

(The End Of) November Rain

November 30th, 2006 by damz

Diantara jejak-jejak tak berarah di atas tanah selepas hujan. Tanah merah di tanah lapang, seperti dipaksa untuk jadi kuburan massal. Bak replika dari reruntuhan puing hasil karya Tsunami, WTC, Karbala, Amrozi. Haruskah kembali merasakan kematian? Saat suasana terus berangsur pudar. Haruskah semuanya dihancurkan dan melupakan bagaimana saat membangunnya? Tembok Berlin, Glassnost, Perestrokia dengan pengorbanan yang sangat besar akhirnya harus dihancurkan. Kenapa nona duduk termenung? Saat aku memulai celoteh ini?.

‘Cause nothin’ lasts forever
And we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle
In the cold November rain*)

Jika itu yang kita rasakan. Ternyata harus menyadari bahwa semua ini adalah ilusi. Ilusi dalam hasrat yang tumbuh dalam realitas imajiner, menggerakan kefanaan yang melampaui bahwa engkau yang tiada harus menjadi ada. Semuanya serba dipaksakan, sedangkan pikiran kita terus diliputi oleh beribu pertanyaan yang tak pernah bisa terjawab.

We’ve been through this auch a long long time
Just tryin’ to kill the pain

But lovers always come and lovers always go
An no one’s really sure who’s lettin’ go today
Walking away

If we could take the time
To lay it on the line
I could rest my head
Just knowin’ that you were mine
All mine
So if you want to love me
Then darlin’ don’t refrain
Or I’ll just end up walkin’
In the cold November rain*)

Karena tidak selamanya rasa itu ada jika nona tidak mencoba untuk menumbuhkannya. Angin bersembunyi menutup saksi, tentang cerita lelaki berselimut kabut. Halaman 666 dari kitab bimbang belum selesai dibaca, namun nona menutup pasti sebagai tameng pelindung diri saat bicara tentang kita.

Don’t you think that you need somebody
Don’t you think that you need someone
Everybody needs somebody
You’re not the only one
You’re not the only one*)

*) November Rain – Gun N Roses

Untuk mamah

November 13th, 2006 by damz

Ternyata memang takdir yang mempertemukan kita
Saat matahari masih terlelap tidur
Engkau masih berjuang melepaskanku dari rahim untuk mengenal dunia
Tak seperti Adam yang turun ke bumi karena sebuah apel
Aku lahir ke bumi dengan taruhan nyawa
Bak setangkai bunga
Kau siangi dan sirami
Mungkin diri ini terus berdosa
Karena lupa bagaimana keringat, rasa sakit, dan teriakanmu
Mungkin diri ini terus berdosa
Karena lupa bagaimana senandung adzan dan dua kalimat syahadat mendengung di kedua telingaku
Mungkin diri ini masih kecil
Karena belum mampu memberikan yang terbaik
Untuk mamah, panutan hidup yang tak tergantikan
Kini aku lelaki, anakmu
Dengan sayap yang hampir sempurna
Untuk belajar terbang sendiri
Untuk mamah yang setiap langkahnya merangkum selaksa makna

——-
Karena pengorbanan yang tak bisa terbalas
hanya pengakuan dosa yang bisa dilakukan
Untuk mamah di hari ulang tahunnya

D.A.M.Z

Cerita Tentang Maaf

October 21st, 2006 by damz

Masih inget dulu ketika guru agama bilang bahwa lebaran itu mengembalikan kita ke fitrah nya, artinya saat lebaran itulah semua dosa kita terhapus. Yang dulu hitam kembali menjadi putih, mulai kembali dengan lembaran baru yang belum ada noda-noda. Tapi, sempet juga bingung…apa mudah kita mulai dengan sebuah lembaran baru? Dalam sebuah cerita pun ketika memasuki chapter selanjutnya tentunya merupakan sebuah lanjutan dari chapter-chapter sebelumnya. Bayangin aja bingungnya klo kita harus mulai dari awal lagi, capek mungkin ya. Yah..karena beranggapan ini hanya sebuah tradisi yang akhirnya condong menjadi sebuah culture massive.

Bicara tentang maaf-memaafkan. Dari cerita seorang kawan dekat, tiga minggu sebelum lebaran, dia dapet sms dari seorang temennya yang seorang pengusaha kecil-kecilan fancy paper di bandung. Sms nya singkat berupa tawaran untuk membisniskan kata maaf. Hampir setengah mati bingung mikirin tawaran yang maksudnya pun harus membuat pikiran kita menerawang. Selidik punya selidik, ternyata bisnis itu adalah bisnis kartu lebaran!. Ya oloh…ampyun deh..! secara gitu loh lebaran!:p.

Tidak sampai disitu, akhirnya saya pun mengalaminya. Seorang teman sma yang gak mau disebut namanya, berperawakan tegap rambut cepak seperti Kopassus yang selalu terkebiri oleh sebuah sikap sempurna. Selintas, sepertinya terlihat acuh tak acuh terhadap lawan jenis. Namun saat itu juga semua terlihat beda, dia minta tolong untuk dibuatin kartu lebaran bertuliskan maaf disertai puisi cinta. Weleh..weleh…ternyata penampilannya yang sangar tak bisa menutupi sisi kelembutan di hatinya. Dia ber alibi tentang hal ini sambil berkata “boleh dong bikin kartu lebaran yang multi fungsi, sambil menyelam minum air : minta maaf sambil menyatakan cinta!” halah halah. Belum lagi kejadian-kejadian lain yang serupa yang gak mungkin untuk diceritakan semua disini.

Dari permasalahan simpel seperti itu, mungkin kita bisa sedikit berpikir liar. Bayangkan aja, berapa rim kertas yg dihasilkan untuk memproduksi kartu ucapan ini. Berapa uang yang kita keluarkan untuk membeli atau membuat kartu ucapan. Semua adalah tentang kata maaf yang diproduksi secara massal.

Jadi inget tulisan Mang Ucup, begini katanya: Permohonan maafnya pun dalam bentuk "kodian", yang dikirim secara "grosiran" dalam jumlah besar, bukannya "eceran". Jadi bukannya yang khusus ditujukan dan ditulis untuk kita tulen, melainkan karena kalimat "permohonan maaf" tersebut udah tercantum dicetak dikartu atau karena hanya men forward SMS orang saja.

Apakah permohonan maaf itu seperti juga penutupan buku neraca akhir tahun yang dilakukan hanya setahun sekali saja untuk melihat laba dan rugi nya untuk berkawan dengan seseorang ? Maka dari itu janganlah heran kalau banyak orang yang menilai permohonan maaf lahir & batin yang diajukan pada saat hari raya Idul Fitri tidak dapat ditanggapi secara serius, karena hal ini lebih menjurus kepada tradisi yang sekedar basa-basi saja.

Ok kita bicara lagi diluar itu, kita bicara tentang maaf yang berkaitan dengan kesembuhan dan kondisi jiwa. Ternyata eh ternyata pada tahun 1994 - Dr. Robert Enright telah mendirikan satu institut khusus buat penelitian mengenai maaf dan memaafkan, dan dari hasil penelitiannya terbuktikan, bahwa maaf dan memaafkan itu bisa menghilangkan stress maupun menyembuhkan luka batin. Jadi manfaatnya sangat besar sekali bagi lahir maupun batin. Hasil penelitiannya diungkapkan dalam buku Exploring Forgiveness. Ungkapan yang sama diutarakan juga oleh filsuf Perancis Paul Ricoeur dalam artikelnya di majalah Esprit yang berjudul  Le pardon, peut-il guérir?? = Apakah memaafkan dapat menyembuhkan?.

            Hmmhhh tapi apa semudah itu manusia menerima maaf? Nah ini jadi pertanyaan buat diri kita masing-masing. Berkata maaf memang mudah, tapi bagaimana dengan orang-orang yang terlanjur sakit hati oleh perbuatan kita secara langsung ataupun gak langsung? Dan mungkin selintas tak terpikir bagaimana rasanya disakiti. Duh..duh..duh..kita kontemplasikan aja diri kita ya, toh semuanya dalam satu garis horizontal, antara manusia dan manusia.

Gak mau kalah dari pemikir-pemikir jempolan yg meneliti kata maaf dari sisi psikologis maupun filosofis, ada seorang pemerhati dari bidang kecantikan namanya Dr. Siaceng Cicingeun Siah,.SPSS atawa biasa dipanggil Aceng seorang praktisi kulit yg lebih concern pada masalah kecantikan dan inner beauty.

Dia mengeluarkan penelitiannya bahwa maaf memafkan dapat membangkitkan  inner beauty yang tersimpan di dalam jiwa. Hal ini dapat dilihat dari keterlepasan jiwa kita dari semua beban dalam pikiran maupun hati. Bayangin aja ketika manusia terus menerus dipikul rasa bersalah atawa terus berprasangka buruk tentunya raut muka tidak mengencang dengan semestinya, yang ada hanya terus mengkerut. Inner beauty pun malah terus tertimbun, dan gak bisa memancarkan keindahannya. Padahal setiap manusia berpotensi untuk bisa membangkitkan inner beauty nya masing-masing. Nah ini bahaya menurutnya. Karena bisa mengurangi ketertarikan lawan jenis.

Dengan melepaskan semua beban dalam jiwa (dalam hal ini maaf-memaafkan) tentunya senyum lebih mudah terpancar, kondisi jiwa menyenangkan. Maka hasilnya inner beauty akan muncul dengan sendirinya. Jadi, bagi siapa yang ingin inner beauty nya terpancar walaupun dengan segala keterbatasannya, maka beranilah untuk minta maaf! dan beranilah untuk memaafkan!, dengan hati ikhlas terima semuanya!. Wah wah… luar biasa Siaceng ini! Padahal saya sebagai temannya gak tau kapan dia bikin hipotesa seperti ini, yang saya tau Siaceng berprofesi sebagai peracik warna, bukan seorang dokter. Weleh..weleh…

Kembali kepada tataran bisnis di bulan Ramadhan ini, ternyata bukan hanya pengusaha konveksi dan kue kering yang kebanjiran rezeki di bulan ini, tapi para pebisnis kata “maaf” berhasil memanfaatkan celah didalamnya. Karena sosok sexy dibalik celana dalam yang bernama pasar bebas terus terlindungi dalam payung neo liberarisme, sehingga semuanya disulap menjadi sebuah produk yang pantas dijual. Mulai dari barang sampai pada manusia bahkan agama. Akhirnya Ucok A.K.A pun berteriak “Beli! Beli! Konsumsi! Konsumsi! kami sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!”. Yang lainnya serempak menjawab : “yee gak apa-apa kale, orang kita berusaha menyediakan kebutuhan orang:p”.

Yah..mungkin inilah puasa dan lebaran dengan gegap gempita didalamnya. Heroisme dalam mengkonsumsi menjadi latar belakang kita untuk bijak melihat tingkah laku yang berbeda-beda setiap individunya. Dan inilah hidup yang begitu paradoks, namun pada dasarnya terlihat harmonis. Semua tergantung persepsi kita untuk melihat dari segala sisi.

Akhirnya Si Idham pun gak mau ketinggalan moment ini, karena ngerasa gak mungkin ngedatengin semua orang satu persatu. Dengan senyum dan hati tulus dia mau minta maaf atas segala kesalahan yang pernah dibuat baik langsung maupun tidak langsung. Selamat Idul Fitri 1427 H, Mohon Maaf Lahir & Bathin.

———-

Semua Terlihat Berbeda

Semua Terlihat Unik

Apa Yang Terjadi Di Sekitar Kita

D.A.M.Z